Creative Communication Intelligence at FreakOut dewina Indonesia


Berbicara tentang digital advertising, salah satu yang punya potensi besar di dunia adalah Asia Tenggara. Digital advertising diprediksikan akan mengambil bagian yang besar di industri periklanan. Di Asia Tenggara, ada lebih dari 272 juta pengguna mobile, sesuai data dari WeAreSocial (https://wearesocial.com/sg/blog/2017/02/digital-southeast-asia-2017). Angka ini sebenarnya naik sebesar 31% sejak Januari 2016. Sekarang setiap orang mengakses digital dan angka ini adalah peluang juga cara mendekati audiens.

Rata-rata penetrasi mobile global adalah sekitar 34%, sementara di Asia Tenggara, penetrasi mobile cukup tinggi dari rata-rata. Thailand, Malaysia, Brunei, Filipina, dan Singapur mempunya penetrasi mobile lebih dari 50% dibandingkan populasi nasional. Penggunaan smartphone ini paling banyak adalah di jejaring sosial, pengiriman pesan, dan game. Tahun lalu, lebih dari 50% transaksi e-commerce di Taiwan dan Asia Tenggara dilakukan lewat perangka mobile. Angka share dari mobile pun meningkat 19% dari tahun ke tahun. Setiap hari, orang-orang memang dekat dengan smartphone mereka, mulai dari bangun tidur hingga menjelang tidur. Ini adalah era mobile dan ini adalah kesempatan yang bagus untuk menempatkan brand campaign di smartphone mereka.

Mulai Meninggalkan Format Iklan Yang Mengganggu

Angka yang tinggi dari penetrasi mobile, memancing brand untuk mengaplikasikan iklan untuk menjangkau pengguna smartphone. Tapi sayangnya, banyak dari iklan-iklan ini yang sifatnya mengganggu. Pop-up banner, flashing animated ads, auto-playing video with sound, large sticky ads termasuk dalam kategori iklan yang mengganggu. Beberapa waktu lalu, Google mengumumkan bahwa mereka bergabung dalam Coalition for Better Ads, sebuah grup industri yang berdedikasi untuk meningkatkan kualitas iklan online. Seperti yang diinformasikan sebelumnya, Google berencana untuk menghilangkan iklan (termasuk produk Google) dalam website ketika iklan tersebut tidak sesuai standar Better Ads, dan akan dimulai pada awal 2018. (https://blog.google/topics/journalism-news/building-better-web-everyone/)

Format iklan yang akan diblok di Google Chrome

Kondisi ini berarti, iklan yang mengganggu akan berkurang dan menghilang, sementara Format iklan Native yang mempertimbangkan user experience akan menjadi format iklan yang mainstream di perangkat mobile. Ini waktunya untuk mempertimbangkan pengalaman user dalam mobile advertising.

Prediksi Native Advertising semakin bertambah cerah di 2017. Ide iklan dengan format Native ini datang ketika user merasa terlalu banyak iklan yang mengganggu dalam gadget mereka. Meningkatknya ad-blocker menunjukan fakta bahwa orang tidak menyukai iklan yang mengganggu. Bahkan ad-block yang ada di mobile kini sudah lebih banyak daripada di desktop.

Format iklan native memang format yng menyatu dengan konten dari sebuah media/website. Transisi dari konten reguler sebuah website ke penempatan iklan native, ternyata tidak terlalu mempengaruhi resistensi dari pengguna, berbeda dengan format yang mengganggu lainnya. Iklan Native pun menawarkan user experience yang lebih baik.

Membuat Ekosistem Digital Yang Lebih Baik di Asia Tenggara

Banyak dukungan dari industry-industri digital di dunia, termasuk Asia tenggara, sebagai pangsa pasar yang besar untuk Digital Advertising. FreakOut, salah satu perusahaan Ad-Technology, berusaha memulai gerakan ini dengan produknya Iklan Native di seluruh Asia Tenggara.  “Hike” adalah sebuah ad-network dari FreakOut yang fokus di smartphone dengan menggunakan format native yang menyesuaikan dan menyatu dengan layout website atau aplikasi mobile.

Tahun ini, FreakOut baru saja membangun cabang di Vietnam, Filipina, dan Malaysia, setelah mempunyai cabang di Singapur, Indonesia dan Thailand (ada juga di Jepang, Turki, Taiwan dan India di luar Asia Tenggara). FreakOut akan menyediakan format iklan native di seluruh Asia Tenggara karena FreakOut juga menyediakan jejaring premium iklan native di 6 negara terbesar di Asia tenggara. FreakOut berkomitmen untuk mendukung iklan online yang lebih baik lagi di Asia Tenggara juga mendukung ekosistem digital yang lebih baik dengan iklan Native. Dengan menciptakan format iklan yang lebih baik, akan ada juga benefit baik untuk pengiklan, pemilik media juga pengguna internet.

Masa Depan Iklan Native

Jika berjalan dengan baik, format iklan Native ini dapat membawa masa depan yang lebih baik bagi Digital Advertising. Banyak prediksi yang baik tentang iklan Native. Business Insider Intelligence memprediksikan bahwa pengeluaran total dari iklan Native akan meningkat dari $ 13,9 milyar di 2017 menjadi $21 milyar di 2018. Tak hanya untuk iklan native, ini juga membawa efek positif untuk ekosistem digital di Asia Tenggara dan dunia.

Free Email Updates
Get the latest content first.