Hindari 5 Hal Ini Dalam Content Marketing


Era digital saat ini menuntut para brand untuk menggunakan digital guna meningkatkan awareness target sasaran. Terkadang brand juga menyepelekan beberapa hal yang perlu diperhatikan dari content marketing. Hal tersebut bisa terjadi karena terlena dengan kemudahan yang didapatkan dari digital itu sendiri. Digital membebaskan setiap orang terkhusus brand untuk membangun sebuah image tertentu. Saat ini setiap orang pun mampu membangun image tentang dirinya sendiri. Sebuah perusahaan juga dapat membangun image yang baik serta meningkatkan awareness tentang produk maupun perusahaannya. Namun, di setiap kemudahan tersebut perlu diperhatikan beberapa hal penting terutama saat meningkatkan awareness melalui content marketing.

Source : Pexels

  1. Topik Terlalu Luas (General)

Digital ini memberikan kemudahan dan keleluasan terhadap siapapun terutama brand dalam membangun image dan juga meningkatkan awareness. Segala hal dapat dituliskan atau dicantumkan dalam konten yang dibuat. Hal tersebut mengakibatkan konten tersebut menjadi tidak fokus. Konten menjadi melebar dan general tanpa sesuai dengan tujuan dan juga targetnya. Bahkan konten tersebut menjadi tidak berguna sehingga membuat target sasaran menjadi kecewa.

  1. Selalu Mengikuti Tren Tanpa Melihat Kecocokannya

Tren selalu berganti dan update setiap saat. Saat ini setiap orang mudah mendapatkan update lalu mengikuti tren tersebut. Tren mudah update dengan yang baru namun tren juga mudah hilang ditelan waktu karena berganti yang baru. Hal tersebut menjadi sering digunakan oleh brand untuk menjadi strategi mendekatkan dengan target sasaran. Namun tidak semua tren cocok dengan konten yang ingin disampaikan. Tren tetap harus disesuaikan agar menarik dan tetap membuat target audience penasaran. Tren yang sesuai dengan konten akan menghasilkan konten yang berkualitas untuk target sasaran.

  1. Salah Menentukan Hardsell atau Softsell

Content marketing memiliki fokus untuk meningkatkan awareness dan juga mengedukasi target sasaran. Pemilihan untuk melakukan hardsell atau softsell juga perlu menjadi pertimbangan untuk brand. Contoh dari headline hardsell adalah “Hanya dengan 50 Ribu Saja, Anda Bisa Mendapatkan Tas Kulit Ini” sedangkan contoh dari softsell adalah “Penampilan Anda Semakin Menawan Dengan Tas Kulit Ini”. Jadi, hardsell langsung menunjukkan atau mengarahkan orang untuk beli dengan mencantumkan misalkan harga sedangkan softsell akan menunjukkan value yang akan didapatkan oleh konsumen.

Source : Pexels

  1. Tidak Melihat Media Pendukung Lainnya

Pada era digital saat ini, media sosial menjadi pendukung yang sangat kuat untuk meningkatkan awareness melalui digital marketing atau content marketing. Apabila campaign menggunakan content marketing namun tidak memiliki media sosial atau pendukung secara digital lainya akan sia-sia. Informasi yang akan diterima oleh target akan sempit dan sedikit sehingga tidak meningkatkan awareness yang cukup. Salah satu contoh dari poin ini adalah native advertising, brand dapat menggunakan native advertising untuk mengkomunikasikan campaign yang juga akan didukung dengan landing page yang akan memperjelas campaign tersebut. Landing page tersebut bisa berupa artikel yang lain, website, maupun media sosial produk tertentu.

  1. Tidak Melakukan Evaluasi

Setiap campaign penting untuk dilakukan evaluasi baik melalui cara konvensional atau digital. Evaluasi berguna untuk melihat kembali yang sudah terjadi dan merencanakan untuk hal yang akan dilakukan selanjutnya. Evaluasi diperlukan agar campaign berikutnya tidak memiliki kesalahan lagi seperti sebelumnya. Hasil dari campaign akan dapat disimpulkan melalui review dan rekomendasi. Rekomendasi dari evaluasi yang lalu berguna untuk membenahi campaign yang kurang. Contoh, pada campaign sebelumnya, headline yang dibuat menggunakan pendekatan hardsell kurang mendapatkan simpatik dari khalayak, maka perlu strategi baru dan juga dapat dicoba pendekatan yang lain.

Source : Pexels

 

 

 

Free Email Updates
Get the latest content first.