Mengenal Kebiasaan Konsumsi Generasi Milenial


Istilah “generasi milenial” mungkin sudah menjadi sesuatu yang tak asing bagi kita semua. Dibanding angkatan-angkatan sebelumnya, generasi ini menjadi generasi yang paling banyak diperbincangkan di publik karena keunikan karakter mereka. Keunikan ini melingkupi berbagai aspek kehidupan, termasuk pola konsumsi sehari-hari.  

Sebelum membahas lebih jauh tentang pola konsumsi tersebut, kita harus memahami apa dan bagaimana sebenarnya kaum milenial ini. Menurut Kotler & Armstrong, generasi milenial adalah generasi yang lahir dari tahun 1977 hingga 2000. Saat ini, proporsi milenial semakin mendominasi jumlah populasi, bahkan hingga mengalahkan jumlah baby boomer.

Secara karakteristik, yang membedakan generasi milenial dengan baby boomer adalah kehidupan mereka tak lepas dari dunia digital. Kondisi ini terjadi karena golongan ini lahir di masa di mana teknologi mengalami puncak perkembangan yang berhasil mengubah kehidupan sehari-hari menjadi tak lepas dari hal tersebut, terutama dalam interaksi sosial serta akses kepada informasi yang tak pernah semudah saat ini.

Adanya perubahan dalam kehidupan milenial di sisi sosial dan komunikasi yang kini berorientasi digital ternyata turut mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam cara berbelanja konsumen dalam kelompok umur ini. Terjadi pergeseran nilai yang membuat pasar milenial mempunyai beberapa kecenderungan tertentu dalam konsumsi. Apa saja di antaranya?

 

– Milenial melakukan pembelian yang memberi nilai pada diri mereka

Dalam sebuah penelitian, ditemukan bahwa ada kecenderungan pada 60% milenial untuk melakukan pembelian yang mendukung mereka dalam berekspresi. Untuk dapat menarik perhatian jenis konsumen ini, brand harus dapat menunjukkan nilai-nilai yang sesuai dengan kepribadian milenial. Karena, tak seperti generasi baby boomers atau generasi X yang melakukan konsumsi berdasarkan kuantitas, milenial juga menitikberatkan pertimbangan mereka pada semua sisi, baik secara logistik maupun kebutuhan emosional.

Generasi milenial melakukan pembelian yang memberi nilai pada diri mereka
– Milenial menganggap penting pengalaman

“Buy experiences, not things” seakan menjadi pedoman hidup kaum milenial. Setengah dari golongan ini lebih memilih untuk menghabiskan uang mereka untuk menambah pengalaman seperti travelling daripada membeli sesuatu yang berupa materi. Bahkan, demi mendapatkan pengalaman baru dan mengesankan, milenial berani mengeluarkan uang lebih.

Milenial menganggap penting pengalaman
– Milenial lebih antipati terhadap iklan daripada generasi sebelumnya

Karena arus informasi yang dihadapkan pada milenial jauh lebih deras dari era sebelumnya, milenial menjadi sangat selektif terhadap konten yang mereka konsumsi sehari-hari, termasuk iklan. Jika iklan yang ditampilkan oleh brand dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dipercaya oleh milenial, mereka tidak ragu untuk melupakan brand tersebut.

Milenial lebih antipati terhadap iklan daripada generasi sebelumnya
– Milenial lebih berani untuk bereksperimen

Milenial lahir di era di mana hampir semua probabilitas menjadi semakin memungkinkan untuk terjadi, serta pilihan yang terbuka luas. Kondisi tersebut menumbuhkan keberanian lebih bagi milenial untuk mencoba hal-hal baru, termasuk dalam perilaku konsumtif. Milenial tak ragu untuk bereksperimen dalam soal brand yang mereka konsumsi sehari-hari, membuat generasi ini jarang mempunyai loyalitas yang cukup panjang terhadap brand tertentu.

Milenial lebih berani untuk bereksperimen
– Milenial lebih percaya pada rekomendasi orang-orang di sekitar mereka

Meski pun milenial berani untuk bereksperimen, mereka sebenarnya tetap mempunyai kriteria tersendiri dalam memilih brand. Oleh karena itu, daripada percaya terhadap iklan, lebih dari sepertiga kaum muda ini memilih untuk menunda pembelian hingga mereka mendapatkan rekomendasi dari orang-orang yang mereka kenal atau review yang memang dibuat secara organik.

Milenial lebih percaya pada rekomendasi orang-orang di sekitar mereka

Melihat karakter-karakter dari milenial tersebut, sepertinya marketer sudah mendapatkan gambaran atas apa yang harus dilakukan untuk dapat menjangkau generasi ini. Yang bisa jadi fokus dalam mengatur strategi marketing terhadap generasi milenial adalah konsumsi yang dilakukan oleh mereka tak lagi sekadar berbasis pada kebutuhan semata, namun juga pada nilai-nilai  personal.

 

Sumber gambar: unsplash.com

Free Email Updates
Get the latest content first.